Sejarah Furniture Kota Jepara

Furniture khas Jepara sudah menjadi klaster industri di dunia Furniture khususnya Indonesia. Di kawasan Jepara ini terdapat sekitar 12.000 rumah industri da 200 eksportir. Rata-rata tiap pengarajin memiliki 5-15 tukang pengrajin. Jepara memang bukan satu-satunya kota yang memproduksi Furniture. Tapi tidak ada yang melebihin kota Jepara dalam jumlah pengrajin dan pengusaha mebel. Nah bagaimana hal ini bisa terjadi?

Riwayat Furniture Kota Jepara

Berdasarkan cerita yang saya baca di beberapa artikel. Awal mula keterampilan masyarakat Jepara dimulai dari kisah pada zaman Raja Brawijaya dari kerajaan Majapahit, Jawa Timur. Pengukir itu bernama Prabangkara atau di sebut juga dengan Joko Sungging. Raja Brawijaya ingin mempunyai lukisan dari permaisurinya, dalam keadaan tanpa busana,akan tetapi tidak boleh melihat permaisuri tersebut dalam keadaan tanpa busana. Dan hanya boleh melalui imajinasi saja. Mendapatkan tugas yang mustahil itu Prabangkara tidak putus semangat. Dan dia berhasil menyelesaikan tugasnya dengan sempurna.

Tiba-tiba se ekor cecak buang hajat dan mengenai lukisan tersebut. Sehingga lukisan permaisuri tersebut  seolah-olah mempunyai tahi lalat. Raja gembira dengan hasil karya pelukis tersebut.  Dilihatnya dengan detail gambar lukisan tersebut. Dan begitu dia melihat tahi lalat. Raja murka, menuduh Prabangkara melihat langsung permaisuri tersebut tanpa busana. Hal ini disebabkan lokasi dari tahi lalat tersebut persis seperti kenyataan. Raja menjadi cemburu dan menghukum Prabangkara dengan mengikat di layang-layang.

Kemudian menerbangkannya. Layang-layang itu terbang hingga ke belakang Gunung di Jepara dan mendarat di kawasan itu. Belakangan Gunung itu kini bernama Mulyoharjo di Jepara. Kemudian Prabangkara mengajarkan ilmu mengukir kepada warga Jepara pada waktu itu dan kemahiran ukir kepada warga Jepara, bertahan dan lestari hingga sekarang. Mungkin ini hanya cerita rakyat saja. Ya itu menurut saya sih. Hehehehe.

Ada riwayat lain tentang Furniture Jepara. Yang ini ada bukti otentik berupa artefak peninggalan zaman Ratu Kalinyamat di Masjid Mantingan.

Ukiran Jepara sudah ada jejaknya pada masa Pemerintahan Ratu Kalinyamat (1521-1546) pada 1549. Sang Ratu mempunyai anak perempuan bernama Retno Kencono yang besar peranannya bagi perkembangan seni ukir. Di kerajaan, ada mentri bernama Sungging Badarduwung, yang datang dari Campa (Cambodia) dan dia adalah seorang pengukir yang baik.  Ratu membangun Masjid Mantingan dan Makam Jirat (makam untuk suaminya) dan meminta kepada Sungging untuk  memperindah bangunan itu dengan ukiran. Sampai sekarang, ukiran itu bisa disaksikan di masjid dan Makam Sultan Hadlirin. Terdapat 114 relief pada batu putih. Pada waktu itu, Sungging memenuhi permintaan Ratu Kalinyamat.

Asal Usul Ukir Furniture Jepara

Daerah Belakang Gunung konon  terdapat kelompok ukir yang bertugas melayani kebutuhan ukir keluarga kerajaan. Kelompok ukir itu kemudian mengembangkan bakatnya dan tetangga sekitar ikut belajar dari mereka. Jumlah pengukir tambah banyak. Pada masa Ratu Kalinyamat kelompok mereka berkembang. Tetapi sepeninggal Ratu Kalinyamat mereka stagnan. Berkembang lagi pada masa Kartini.

RA Kartini berperan dalam perkembangan ukir Furniture Jepara dengan memberikan pendampingan bagaimana membuat produk ukir yang disukai pasar. Kartini menekankan pentingnya desain. Dia mengumpulkan pengrajin ukir, memberi modal dan memasarkan produk mereka ke Batavia, Semarang dan Negeri Belanda. Dalam pengembangan desain, RA Kartini menggugah pengrajin ukir untuk berpikir tentang aspek fungsional dari produk. Sehingga mereka menerapkan ukiran kepada benda- benda mebel yang fungsional bagi rumah tangga.  Pada tanggal 1 Juli 1929, Kartini mendirikan sekolah ukir bernama “Openbare Ambachtschool”.  Pemerintah Jepara mendirikan perusahaan milik komunitas “Jepara’s Houtsnijwerk En Meubelmaker”. (Local Clusters in Global Value Chains, Roos Kities Andadari), Tetapi perusahaan ini gulung tikar setelah beberapa tahun kemudian. Walaupun demikian, kemahiran ukir Jepara tidak hilang dengan gulung tikarnya lembaga tersebut. Kemahiran ukir warga Jepara diwariskan turun-temurun tanpa tergantung pada perusahaan maupun. Tetapi bukan berarti perusahaan dan sekolah tidak penting. Sekolah dan perusahaan itu pupuk bagi hobi mengukir pengrajin Jepara.

 

Sumber: http://www.karyafurniturejepara.com/blog/sejarah-furniture-jepara/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *